Kamis, 26 Agustus 2010

Sarang Burung Walet


1. SEJARAH SINGKAT

Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

2. SENTRA KOLONI

Koloni sarang burung walet banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah

3. JENIS

Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacaliafuciphaga

4. MANFAAT

Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.

5. PERSYARATAN LOKASI

Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:

  1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
  2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
  3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
  4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
      Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
      1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
      2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
      3. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
      4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
      5. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
    2. Bentuk dan Konstruksi Gedung
      Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10x15 m 2 sampai 10x20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20x20 atau 20x35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
  2. Pembibitan
    Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.
    1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
      Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
    2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
      Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
      1. Memilih Telur Walet
        Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :
        • Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
        • Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
        • Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
          Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014x1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
          kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
      2. Membawa Telur Walet
        Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.
        Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.
    3. Penetasan Telur Walet
      1. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
        Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
      2. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
        Suhu mesin penetas sekitar 40 ° C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15
        hari telur akan menetas.
  3. Pemeliharaan
    1. Perawatan Ternak
      Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
    2. Sumber Pakan
      Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:
      1. menanam tanaman dengan tumpang sari.
      2. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
      3. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
      4. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
    3. Pemeliharaan Kandang
      Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.

7. HAMA DAN PENYAKIT

  1. Tikus
    Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
    Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
  2. Semut
    Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
    Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
  3. Kecoa
    Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
    Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
  4. Cicak dan Tokek
    Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
    Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.

8. PANEN

Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Panen rampasan
    Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  2. Panen Buang Telur
    Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
  3. Panen Penetasan
    Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.

Adapun waktu panen adalah:

  1. Panen 4 kali setahun
    Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
  2. Panen 3 kali setahun
    Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
  3. Panen 2 kali setahun
    Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.

9. PASCAPANEN

Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor Gambaran Peluang Agribisnis

Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.

sumber : walet-indonesia.blogspot.com

Faktor penentu kualitas sarang walet


sarang-walet-terbaik

Sarang walet terbaik dihasilkan oleh air liur walet yang berkualitas tinggi. Semakin banyak makananyang dimakan walet, kualitas sarang walet akan meningkat dan waktu untuk memproduksi sarang akan lebih cepat. sarang-walet-terbaik

Sarang burung walet ini bernilai jual tinggi karena semakin banyak dinikmati oleh masyarakat. Hal ini terbilang wajar, karena kandungan gizi sarang walet yang berkualitas tinggi sangat banyak, bahkan bisa digunakan sebagai obat macam-macam penyakit.

Ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas sarang burung walet, contohnya humidity gedung walet. Agar kita bisa memproduksi sarang walet yang terbaik, kita harus memperhatikan dengan seksama kelembaban (antara 80%-90%) dan temperature (antara 26 – 29 C) dalam gedung.

Kedua hal tersebut harus diperhatikan dengan seksama karena sangat memperngaruhi kualitas dan kuantitas sarang walet.

Selain itu, masih ada faktor lainnya seperti penggunaan sarana penunjang budidaya walet. Sarana tersebut meliputi penggunaan mesin pemanggil, mesin pembuat hujan buatan, thermohygrometer, dsb. Hal ini juga sangat diperlukan untuk membuat burung walet merasa nyaman (tidak stress) sehingga kualitas sarangnya pun meningkat.

Faktor terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah hilangkan hambatan dalam memproduksi sarang burung walet, contohnya hambatan pada lubang masuk burung walet. Kadang kala, ada pohon atau tiang yang menutupi lubang masuknya walet. Hal ini sangat fatal karena dapat menyulitkan walet untuk kembali ke sarangnya. Bila hal ini terjadi, segera hilangkan penghalang tersebut.


sumber : www.andriapriyadi.com

Karakter burung walet

  • Perkembangbiakan
    • Burung walet mempunyai fase berkembangbiak(musim kawin) sepanjang tahun. Musim ini ditandai dengan banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran dan mengeluarkan suara tertentu untuk menarik hati lawan jenisnya. Musim kawin biasanya terjadi pada musim penghujan, hal ini dikarenakan populasi pakan yang melimpah pada musim penghujan.
    • Normalnya, burung walet mengalami masa kawin dua kali setahun. Selain itu, proses perkawinannya terjadi pada malam hari ketika burung walet telah kembali ke sarangnya.
  • Habitat
    • Walet mempunyai habitat di daerah gelap (dark zone), daerah yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C – 27C).
    • Umumnya, burung walet banyak dijumpai di dalam gua-gua alam yang dikelilingi hutan lebat.
  • Ekolokasi
    • Ini adalah karakter burung walet yang sangat unik. Ekolokasi adalah kemampuan untuk mengeluarkan suara berfrekuensi tertentu (biasanya frekuensi tinggi) secara terputus-putus dan kemudian menangkap kembali pantulan suara tersebut untuk menentukan jarak dan letak sebuah benda. Hal ini memungkinkan walet untuk terbang dimalam hari atau ditempat yang gelap.
    • Selain untuk menentukan keberadaan sarang walet, burung walet juga menggunakan ekolokasi untuk berkomunikasi seperti memberikan peringatan bahaya kepada burung walet lainnya.
sumber : www.andriapriyadi.com

Menentukan Lokasi Gedung Walet


Salah satu hal yang paling pertama dan utama dalam budidaya burung walet adalah menentukan lokasi gedung walet. Hal tidak hanya berkaitan dengan “kuantitas” sarang walet yang dihasilkan tetapi juga “kualitas” sarang waletnya.

Sarang walet yang kuntitas dan kualitasnya baik hanya bisa dihasilkan dari gedung walet yang nyaman untuk perkembang biakan walet. Maka dari itu, sebelum kita belajar banyak tentang walet, alangkah baiknya kita belajar menentukan lokasi gedung walet yang disukai walet terlebih dahulu.

Ingat, tanpa pemilihan lokasi gedung walet yang benar, kecil kemungkinan Anda mendapatkan hasil yang Anda inginkan. Fakta dilapangan menunjukan bahwa hampir 70% gedung walet yang dibangun tidak menghasilkan sarang.*

*diolah dari berbagai sumber

Menurut Andri, seorang praktisi walet, lokasi yang tepat untuk mendirikan gedung walet terkait beberapa faktor penunjang, contohnya ketersediaan pakan alami disekitarnya, ketinggian tempat, tingkat kebisingan dan polusi, serta ada tidaknya predator alami.

“Persyaratan dasar dalam menentukan lokasi gedung walet antara lain, dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl (diatas permukaan laut, red.), daerahnya bebas pulosi, tidak bising, dan tidak banyak dihuni oleh predator” ungkap Andri.

Berikut ini beberapa areal yang bisa dijadikan lahan untuk mendirikan gedung walet, antara lain:

  1. Rawa-rawa da aliran sungai. Daerah seperti ini sangat bagus karena biasanya di daerah semacam ini banyak serangga terbang yang merupakan makanan burung walet.
  2. Lahan pertanian yang subur dengan sistem irigasi yang baik. Disengaja atau tidak, lahan pertanian akan mengundang kehadiran serangga yang merupakan makanan burung walet.
  3. Seperti telah disebutkan diatas, dataran rendah dengan ketinggian maksimum 600 m dpl. Pasalnya, di lokasi yang terlalu tinggi, walet akan sulit berkembang biak. Belakangan ini banyak pakar walet mencoba mengembangbiakan walet di dataran tinggi, tapi hasilnya masih nihil.
  4. Daerah yang bebas polusi, baik udara mau pun suara. Adanya polusi akibat aktivitas manusia dapat mengganggu ketenangan walet. Maka dari itu pilihlah daerah yang cukup jauh dari gangguan polusi yang mengganggu ketenangan walet.

Areal di atas merupakan tempat yang baik untuk membangun gedung walet, walaupun memang tidak tertutup kemungkinan bahwa di tempat lain burung walet bisa di budidayakan. Hal ini bisa dikarenakan beberapa faktor penunjang lainnya.


sumber : www.agromedia.net

Teknik Memikat Walet dengan Aroma


Salah satu cara memancing walet agar masuk ke gedung walet yang sudah disediakan ialah dengan teknik aromatik. Yaitu, menebarkan parfum atau aroma walet pada sekitar gedung. Aroma ini akan merangsang penciuman mereka sehingga tertarik untuk masuk ke dalam gedung. Sebab, mereka mengira bahwa gedung ini telah dihuni oleh walet lain dan memiliki karakteristik yang mereka sukai dari aroma tersebut.

Aroma walet biasanya dibuat dengan cara memanfaatkan kotoran dan cairan air liur walet yang berasal dari perendaman sarang, selanjutnya campuran tersebut dioleskan ke dinding-dinding gedung. Aroma-aroma tersebut bertujuan untuk memberikan bau yang khas di gedung baru.

Jika Anda ingin membuat aroma walet, sebagaimana dijelaskan dalam buku "Buku Pintar Budi Daya dan Bisnis Walet", Anda bisa membuatnya dari bahan-bahan dan teknik sebagai berikut.

A. Kotoran Walet
Dalam penggunaannya, kotoran walet ditebarkan secara merata pada lantai, dinding, dan ventilasi gedung. Sebelum ditebar ke lantai, sebaiknya lantai diberi pasir agar tidak terlalu lembap. Kotoran yang digunakan adalah kotoran walet yang masih baru. Biasanya, aroma yang dihasilkan akan bertahan hingga 3 minggu. Sementara, jika ingin menebarkan kotoran walet ke dinding gedung, sebaiknya tidak melemparnya langsung ke muka dinding. Namun, kotoran walet tersebut sebaiknya dicampur dulu dengan air, kemudian hasil rendamannya disemprotkan ke dinding.

Berikut ini langkah-langkah membuat larutan dari kotoran walet.
1. Siapkan 10 kg kotoran walet dan 5 liter air, campur kedua bahan tersebut hingga merata.
2. Endapkan cairan tersebut selama 5 hari. Setelah itu, endapan disaring untuk memisahkan antara bahan dengan cairan. Air hasil saringan dicampur dengan minyak ikan dengan perbandingan 3 : 1, aduk hingga rata.
4. Semprotkan cairan tadi ke seluruh dinding atau tembok gedung walet. Penyemprotan dapat dilakukan sesering mungkin, paling tidak seminggu sekali.

Dalam mengaplikasikan kotoran harus dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan. Pasalnya, kotoran walet merupakan limbah yang dapat menimbulkan berbagai gas seperti amonia (NH3), asam belerang (H2S), dan karbondioksida (CO). Akibatnya, udara di dalam gedung menjadi tercemar dan tidak sehat.

B. Jus Sarang Walet
Aroma walet juga dapat diciptakan dari air hasil rendaman sarang. Biasanya, sarang walet yang direndam adalah sarang walet yang kualitasnya tidak baik, misalnya sarang-sarang yang telat panen yang umumnya berwarna cokelat, sarang yang mulai membusuk, atau sarang yang bentuknya tidak sempurna, sehingga jika dijual pun harganya sudah menyusut.
Berikut ini cara membuat aroma walet dari rendaman sarang walet.
1. Siapkan sarang walet yang berkualitas jelek, lalu rendam selama satu jam di dalam air.
2. Blender sarang hingga hancur. Aplikasikan jus sarang walet dengan kuas ke nesting plank. Perlu diperhatikan, bagian sirip yang diberi ramuan ini adalah bagian yang terlindungi dari paparan cahaya langsung. Hal ini dimaksudkan agar bau dari ramuan ini dapat bertahan lebih lama. Sirip yang telah menyerap cairan sarang akan memudahkan walet dalam merekatkan liurnya, terutama pada walet muda yang baru pertama kali membuat sarangnya. Jadi, cairan ini berfungsi sebagai landasan yang mempermudah walet dalam membangun sarang.

C. Telur Bebek
Selain menggunakan kotoran atau air hasil rendaman sarang walet, pembudidaya walet juga bisa menggunakan telur bebek atau itik aroma walet. Cara mengaplikasikannya cukup mudah. Sediakan beberapa butir telur bebek atau itik, tergantung luas bangunan. Bagian telur yang digunakan adalah putih telurnya saja. Putih telur tersebut selanjutnya dicampur dengan air secukupnya hingga encer. Hasilnya, larutan tersebut disemprotkan ke nesting plank.

D. Aroma Jadi Hasil Pabrik
Saat ini, di toko-toko perlengkapan walet juga tersedia parfum walet yang sudah jadi sehingga pembudidaya yang baru terjun ke bisnis ini tidak perlu repot membuat parfum walet secara manual yang bahan-bahannya agak sulit didapat. Parfum walet biasanya tersedia dalam berbagai merek dan kemasan. Anda tinggal memilih parfum mana yang sesuai dengan lokasi gedung walet Anda.

sumber : www.agromedia.net

Cara Beternak Tokek

Cara Mudah Beternak Tokek & Perawatannya :

Kandang :

  • Pilih bahan dasar kandang yang terbuat dari kayu / kamar kosong, minimal luas kandang untuk beternak tokek 2Meter x 1Meter x 70 Cm.
  • Bumbung Bambu, Sebagai tempat bertelur dan persembunyian tokek diatur dengan berbagai posisi atas, tengah dan bawah bila memungkinkan berikan plafon pada bagian atas, tokek akan mencari tempat bertelur pada tempat persembunyian yang ia merasa nyaman bila persembunyian atas terlalu panas maka tokek akan bertelur pada bambu bagian bawah dan sebaliknya bila persembunyaian bawah terlalu dingin tokek akan bersarang di bagian atas.
  • Satu ekor betina tokek dapat bertelur 1 hingga 2 kali dalam 1 minggu, dengan sekali bertelur 1 betina tokek menghasilkan 2-3 butir telur, tempat bertelur tokek biasanya digunakan lebih dari 1 ekor betina sehingga secara bergantian betina-betina tokek akan bertelur pada tempat yang sama.

RAMUAN KHUSUS UNTUK MAKANAN TOKEK AGAR TOKEK SEHAT DAN ANTI STRESS
  1. Bubuk Vitamin u/ anak ayam campur secukupnya dengan air dan berikan pada tempat jangkrik cukup 1 tutup botol aqua (bukan u/ tokek).
  2. Akar dan daun Gingseng berikan pada tempat jangkrik (bukan u/ tokek).
  3. Jangkrik yang telah memakan minuman vitamin + Akar dan daun Gingseng BERIKAN PADA TOKEK. Manfaat : Tokek akan bertelur lebih cepat dengan jumlah lebih banyak.

Cara Penjodohan Tokek
  1. Ciri-ciri tokek Jantan : terdapat 2 gundukan / tonjolan bagian tubuh dibagian bawah pangkal ekor, warna cerah, tubuh berbintik kasar dan timbul, wajah garang dan bintik kuning tidak dominan.
  2. Ciri-ciri tokek Betina : Tidak terdapat gundukan pada bagian bawah pangkal ekor, warna lebih dominan kuning, tubuh / bintik kulit terlihat rata / halus.
  3. Cara Penjodohan sangat mudah masukkan tokek dengan berbagai warna dalam 1 kandang dimalam hari tokek akan memilih dengan sendirinya pasangan mereka.
  4. Ciri-ciri tokek yang sudah jodoh: jenguk disiang hari ketika dalam 1 bambu terdapat 2 tokek maka jangan diganggu, khusus tokek yang berada sendirian dalam 1 bambu kita ambil agar tidak mengganggu tokek yang telah jodoh.
  5. Tutup kandang tokek penjodohan menggunakan selambu warna gelap agar tidak terganggu sehingga tokek betina lebih cepat bertelur.

sumber : Tokok Indonesia

visit globe